Catatan Ummu Ghifari

Selasa, 04 Juni 2013

Nyongkolan dengan "kecimol" masih layakkah?

Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai gendang beleq.

 Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.
Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki
Hingga saat ini Nyongkolan masih tetap dapat ditemui di Lombok, iring-iringan yang menarik masyarakat untuk menonton karena suara gendangnya ini biasanya diadakan selepas dhuhur di akhir pekan. apabila anda melakukan perjalanan antar kota di Lombok, maka bersiaplah untuk menghadapi kemacetan insidental akibat Nyongkolan yang dapat anda temui sepanjang jalan, apabila di akhir pekan tersebut banyak digelar pernikahan.

Akan tetapi dalam perkembangannya hingga saat ini , nyongkolan diiringi oleh kecimol (kelompok drum), gendang beleq atau ale-ale. Alat musik yang asli gendang beleq mulai di tinggalkan oleh masyarakat Lombok, sebagian masyarakat lebih senang menanggap kecimol karena tarifnya lebih murah dan lebih bervariatif ketimbang alat musik asli gendang beleq. Kecimol adalah merupakan kreativitas budaya tapi seiring dengan perkembangannya terjadi penyelewengan oleh oknum dari peserta kecimol itu sendiri.

Saya prihatin sekali dengan maraknya musik kecimol khususnya di KLU sendiri yang sudah mengalami pergeseran nilai termasuk tata caranya. Tidak jarang juga para muda mudi berjoget di depan kecimol bahkan anak-anak juga ikut serta. Sangat tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, juga sangat mengurangi etisnya prosesi nyongkolan tersebut. Selain itu juga akan mengakibatkan kemacetan karena orang-orang yang berjoget menghambat jalannya kecimol. Korban dari kemacetan tidak lain adalah pengguna jalan, mau tidak mau harus bersabar dan menunggu longgarnya jalan. Terkadang nyongkolan juga diikuti oleh aksi brutal para penjoget karena mereka dipengaruhi oleh minuman alkohol yang mereka minum sebelum berangkat nyongkol, karena bagi mereka kalau tidak mabuk katanya ga seru,ga kuat jalan, dan sebagainya. Kalau ga kuat jalan nyongkolan di tiadakan aja daripada menambah daftar efek negatif dari nyongkolan. Belum lagi mereka meninggalkan waktu sholat karena biasanya nyongkol itu di laksanakan sebelum ashar dan berakhir pas maghrib.

Hendaknya pelaku usaha kecimol atau pimpinan rombongan kecimol itu menata ulang kembali dan membina rombongan kecimol itu sendiri supaya tercipta identitas diri. Memanage kembali bagaimana proses perjalanan rombongan dari berangkat sampai pulang kembali dan bagaimana agar pengguna jalan tidak terlalu terganggu dengan adanya rombongan kecimol.

Menurut pendapat saya kalau memang nyongkol adalah ajang silaturrahim dan untuk menyiarkan pasangan pengantin, maka kembalikanlah pada posisinya yang benar yang sesuai dengan ajaran islam itu sendiri, ga perlu ada joget-jogetan atau tarian seronok oleh muda-mudi dalam rombongan kecimol apalagi ada mabuk-mabukan. Itu kan mempertontonkan sesuatu yang buruk bagi masyarakat. Belum lagi nanti kalau terjadi kecelakaan siapa yang di salahkan? Salah satu solusi mungkin silaturrahim itu dapat terwakili dengan proses terakhir dari upacara perkawinan yakni "bejango". Cukuplah keluarga pengantin pria atau kerabat dekat saja yang mengunjungi keluarga pengantin wanita, toh lama-lama masyarakat akan tahu juga kalau si A dan si B sudah menikah. Dan tidak perlu lah ada banyak alat musik yang mengiringi, cukup rebana aja misalnya atau semacam nasyid islami yang hanya diiringi oleh alat musik rebana.

Dan sebagai catatan penting tidak ada yang bisa meniadakan kecimol ini termasuk pemerintah kecuali masyarakat. kalau masyarakat tidak membutuhkan kecimol, otomatis akan tersingkir dengan sendirinya.
Mari kita kembali ke ajaran islam yang menyeluruh. Menyeluruh berarti dapat memenuhi kebutuhan dari berbagai aspek dan berbagai pandangan. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain. Islam dapat mengcover seluruh aspek ini karena islam adalah agama rahmatan lila'lamin, agama yang tak hanya menjadi rahmat bagi para pemeluknya sendiri, namun juga pemeluk agama lain.

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh, ia musuh nyata bagimu” (Q.S 2:208).














2 komentar: